Surat untuk abang :)

Hai, Aku mau nulis surat sekaligus curhatan yang bisa dibilang alay dan iitulah aku alay. :v ini terinspirasi dari kotak pos yang diposting di wattpad oleh salah satu author disana. Sepertinya kalau aku nulis surat di blog juga keren. Tidak peduli siapa yang mau baca dan tidak peduli juga ada yang baca atau tidak yang penting aku happy :D

Ini surat pertama yang di post disini:
To: Abang
From: yang ngakunya adek lo :v




Assalamu’alaikum bang :D apakabar? Haha Garing banget ini ya. Tapi, gue serius. Gue mau tau kabar lo. Semoga tetap baik yaa dan selalu baik. Gue kangen sama lo tau gak? Enggak ya? Ya itu karna lo nggak kangen gue, makanya lo nggak tau. Kalau lo kangen gue, pastii lo merasakan kalau gue kangen lo. Okkeh ini gaje ya? Emang :D



Tapi, buat lo abang gue lebih tepatnya gue yang ngaku jadi adek lo terima kasih yaa. Terima kasih selalu membantu gue, terima kasih untuk semuanya. Cuma lo yang tulus J. Terima kasih gue sejak awal pendaftaran ulang sampai ngurus-ngurus segalanya yang lo tau itu.







Sicerely


Your sister J
Category: 0 comments

Perjuangan Cinta Mawar 3

3
-Mawar mengajarkan kita agar tidak jadi manusia lemah. Jangan mudah menyerah untuk meraih sesuatu yang harus diraih-

Hari minggu selesai shalat Subuh Villa duduk sendiri di balkon kamarnya. Mengamati alam yang masih lumayan gelap. Dari seberang dilihatnya kak Dika yang membuka pagar. Sepertinya dia mau lari pagi. Villa tersenyum dan meneriaki nama sepupunya itu.
“Kak Dika.” Dika yang merasa dipanggil menoleh kearah Villa.
“mau kemana kak?”
“Mau kerja bakti.” Jawab Dika asal. Villa ini ada-ada saja, sudah tahu ida memakai celana pendek dan kos lengan pendek serta sepatu. Handuk kecil yang menggantung di leher masih harus ditanya. Villah hanya terkekeh.
“Rajin nyaa. Haha. Gue ikut dong kak.”
“Ya udah cepetan turun gue tunggu di bawah.” Villa mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya. Mengambil sepatu birunya dan menyambar HP beserta earphonenya. Sambil turun tangga diketiknya beberapa kata lalu dikrimnya ke Fino.
“Ma, Villa lari pagi bareng kak Dika yaa.” Teriaknya.
Dika masih menunggu di depan pagar rumah Villa yang masih terkunci. Tidak lama datanglah Villa dengan menaiki sepedanya. Di bangunkannya satpam rumah supaya dibukakan gerbang.
“Berasa apa aja gue berdiri sendirian disini. Mana tu satpam nggak bangun-bangun lagi.” Villa hanya tergelak.
“Nah lo lagi, katanya mau lari bareng gue kok naik sepeda?” kesal Dika.
“Kapan coba gue bilang mau lari bareng lo, gue tu tadi Cuma bilang ikut doing. Punya kuping dipake kakak ganteeng.”
“Ya udah, yok ah jalan.”
Mereka akhirnya keliling kompleks dengan Villa yang menaiki sepeda dan Dika yang lari-lari kecil.
***
Fino baru saja selesai shalat Subuh begitu HPnya bergetar ada pesan masuk. Setelah melipat sajadah dan meletakkan pecinya ia meraih HP yang terletak tak berdya itu di atas kasurnya.
Dari: Arvilla Diana
Assalamu’alaikum Kak Al.
Udah bangun? Jangan lupa shalat Subuh ya.

Fino menutup HPnya tanpa ada niat sedikitpun untuk membalasnya. Villa jangan terlalu mempehatikanku karena perhatianku tidak akan tercurah kepadamu. Jangan menyakiti dirimu dengan menyayangiku. Fino meletakkan kembali HPnya di atas kasur sedangkan dia memilih untuk mandi. Mandi subuh katanya menyehatkan.
Selesai mandi Fino turun ke bawah dan melihat mama dan papa yang sedang sarapan. Dia mengambil duduk di hadapan Mama.
“Selamat pagi Pa, Ma.”
“Pagi sayang.” Jawab Mama. Sedangkan papa hanya menggumam dan masih sibuk memakan nasi goreng buatan Mama.
“Waktu Mama dan Papa ke rumah sakit Villa disini dan menggantikan Mama masak loh Fin. Kamu ketemukan sama dia?” Tanya Mama. Fino hanya mengangguk sambil menerima sepiring nasi goreng yang diberikan mama.
“Enak ya masakannya? Calon istri idaman tuh.”
“O iya, hampir mirip sama masakan mama kan? Jadi, besok kalau mama udah nggak ada Fino sama Papa minta masakin sama Villa aja ya. Dia istri dan menantu idaman loh.” Fino dan Papa tidak menanggapi celotehan Mama sama sekali. Mereka tetap Asyik memakan nasi goreng nikmat buatan Mama.
“Ih, kok mama dikacangin?”
“Mama jangan mikir kemana-mana dulu ya. Ayo makan.” Kata Papa. Mama hanya mengerucutkan bibirnya. Fino hanya melirik sekilas ekspresi mamanya yang kadang bisa seperti anak kecil, tetapi Fino sayang sama mama.
Fino bangkit dari duduknya setelah menghabiskan sarapannya. Suara kursi yang didorong ke belakang membuat Mama dan Papa menatapnya.
“Mau kemana Fin?” Tanya Mama.
“Fino mau ke tempatnya Aldi dulu, Ma. Fino pergi ya.Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati Fin.”
***
“Aldii, bukain pintunya. Ini gue woy Fino.” Teriak Fino dari luar. Melihat pintu belum dibuka juga Fino kembali berteriak. “Woy, Aldi.” Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan muncullah sosok Aldi dengan muka bantalnya.
“Wa’alaikumsalam .” Jawab Aldi dengan kesal Fino pikir rumah Aldi hutan. Tanpa mengucapkan salam langsung saja teriak-teriak. Untung tetangga tidak berlarian ke rumahnya.
“Lo pikir rumah gue hutan? Tumben lo kesini? Sejak punya tunangan gak ada lagi lo mampir ke rumah gue.”
“Berisik lo, gue mau masuk. Awas.” Mau tak mau Aldi menyingkir dari depan pintu dan membiarkan tamu kurang ajar ini masuk. Aldi menutup pintu dan mennyusul Fino yang sudah duduk di depan Tv. Rumah Aldi memang tidak sebesar rumah Fino tetapi rumah ini nyaman.
“Ibu mana Di?” Tanya Fino.
“Ngapain lo nanyain ibu gue? Udah punya tunangan juga.” Mendengar jawaban Aldi yang meleset Fino langsung melempar botol minum kosong yang terletak di depannya. Aldi hanya tertawa.
“Ibu pergi ke pasar sama Ine.” Jawab Aldi.
“Ine siapa?”
“Calon menantu Ibu laaah.” Jawab Aldi songong. “Lo pikir lo doang yang punya tunangan? Gue juga punya.”
Fino memutar bola matanya mendengar jawaban Aldi. Mau tak mau Aldi kembali mendapat lemparan sapu tangan dari Fino yang kesal. Aldi hanya cengengesan.
“Tumben lo kesini? Ngapain?”
“Suka-suka gue.” Jawab Fino asal.
“Kok mau ya si Villa sama lo.”
“Gue nggak minta.” Jawab Fino datar membuat Aldi mengernyit. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Fin, lo nggak cinta sama Villa?” Fino hanya diam.
“Masih nunggu si Melati lo itu? Cish, dia udah mati bego.”
BUGH
Satu pukulan melayang ke wajah Aldi membuatnya mengerang kesakitan. Fino mengepalkan kedua tangannya. Matanya menatap tajam Aldi yang masih memegangi wajahnya yang terkena pukulan Fino. Aldi tersenyum sinis.
“Lupain dia Fin.”
“Nggak, Melati nggak mati Di. Dia akan kembali buat gue.” Desis Fino tajam.
“Villa?”
“Gue nggak mau dia.”
“Sini lo.”
BUGH
Satu pukulan melayang dari Aldi ke wajah Fino begitu Fino mendekat.
“Mau lo apa sih Fin? Lo udah ngalaminkan rasanya nunggu yang tak kembali? Lo mau Villa merasakan nunggu yang tak bersambut?”
“Gue nggak nyuruh dia.”
“Dia sahabat gue, Fin.”
“Gue juga sahabat lo.”
“dan gue nggak mau sahabat gue saling menyakiti.”
“Suruh sahabat lo nyerah Di.” Fino berlalu meninggalkan Aldi yang masih diam.
“Lo juga sahabat gue dan gue juga mau lo nyerah.” Kata Aldi tajam sebelum Fino meninggalkan rumahnya.

***
Bersambung ...
Category: 0 comments

Perjuangan Cinta Mawar 2

2
-Dalam kebisuan Mawar berbicara, dalam kesunyian Mawar bernada. Bertekad seperti apa yang seharusnya dengan segenggam semangat yang dipegangnya-

Malam ini di sebuah hotel megah di Jogja diadakan pertunangan sepasang anak manusia. Alfino dan Arvilla. Villa dengan kebaya putih dan rambut yang ditata sedemikian rupa membuatnya tampak anggun sekali mala mini. Begitu juga dengan Fino yang menggunakan kemeja putih dilapisi  jas hitam di luarnya. Mereka tampak serasi sekali malam ini.
Fino dan Villa berdiri berhadapan saling menatap mata masing-masing. Vila terhanyut dengan tatapan mata Fino yang tajam. Villa tersenyum yang tetap saja disambut wajah datar Fino. Mama Fino menyerahkan kotak merah ke tangan Fino. Fino menerimanya lalu membuka kotak merah yang berisi cincin pertunangan. Cincin berlian dengan desain yang elegan.
Fino meraih tangan Villa lalu menyematkan cincin indah itu di jari manis Villa yang mungil. Cincin indah itu sangat cocok disana. Semua tamu bertepuk tangan. Sekarang giliran Villa menyematkan cincin itu ke jari manis Fino. Villa meraih tangan Fino lalu menyematkan cincin serupa di jari manis itu dan mengecupnya lama. Semua tamu kembali bertepuk tangan.
I Love You, kak Al.” gumam Villa lirih.
Fino bisa merasakan air yang menetes di punggung tangannya saat Villa mengecupnya tadi. Fino pun hanya diam saat mendengar gumaman lirih Villa. Dia hanya berdiri kaku tanpa mampu berucap  kata sampai sang Mama memberi kode untuk mengecup kening tunangannya.
“Maaf.” Selalu kata maaf yang Villa dengar dari mulut Fino. Kenapa bukan kata Cinta? Kecupan Fino di keningnya sama sekali tidak berasa. Hambar dan dingin. Sama sekali tidak menghangatkan. Dari sana Villa sadar bahwa kata maaf tidak akan berganti menjadi kata cinta. Mungkinkah rasa ini akan terpenjara dan menua tanpa disentuhnya.
***
Acara pertunangan selesai pukul 00.30 WIB membuat Fino bernapas lega saat sat per satu tamu undangan meninggalkan ballroom hotel hingga menyisakan keluarga Fino dan keluarga Villa saja. Fino membuka jasnya lalu menyampirkannya di pundak, berjalan meninggalkan ruangan besar itu. Dia butuh istirahat, malam ini sungguh melelahkan.
“Kak Al.” Sebuah suara menghentikan langkahnya. Ia diam tanpa niat menoleh ke asal suara.
“Kak Al di panggil Papa.” Setelah berkata demikian Villa melewati Fino yang masih diam berdiri di tempat.
“Kamu mau kemana?” Villa menoleh dan tersenyum.
“Mau isirahat ke kamar. Villa duluan ya kak.” Fino hanya diam dan kembali memutar badannya menemui Papa Riko.
Fino mengambil duduk di hadapan papanya. “kenapa Pa?” Papa menoleh dan menatap Fino penuh ketegasan.
“Jadi lelaki yang bertanggung jawab nak, sekarang kamu sudah memiliki tanggung jawab baru untuk menjaga Villa sampai nantinya kalian menikah. Dia hanya perempuan biasa, yang pastinya ingin disentuh cinta. Papa tahu kamu belum bisa menerima perjodohan ini dan Papa juga bisa lihat tatapan Villa dan tatapan kamu itu berbeda. Jangan kecewakan dia, belajar untuk menerima dia yang tulus.”
Setelah mengatakan itu Papa bangkit dari duduknya dan melewati Fino yang masih terdiam. “Masa lalu itu sudah lalu. Masa depan menantimu.”
***
Villa melangkah dengan anggun memasuki kelasnya. Disana sudah ada Ine dan Aldi sahabatnya yang melempar senyum menggoda kearahnya. Villa mengambil duduk di depan keduanya.
“Ciee, yang udah tunangan.” Seru Ine. Villa hanya memeletkan lidahnya.
“Cih, sombong amat yang tunangan semalam.” Tambah Aldi. “Kok masuk sih? Nggak capek apa?”
“Berisik deh lo pada. Kenapa nggak datang semalam?” Tanya Villa.
“Kita datang tau, lo aja yang sibuk sama tunangan lo itu. Ya kan Di?” Aldi hanya mengangguk menyetujui. Villa mengernyit.
“Kok nggak nyamperin gue?” sewot Villa
“Siape lo?” balas Aldi dan Ine tidak mau kalah membuat Villa merengut kesal.
Sorry Vil, semalam setelah acara pemasangan cincin kita langsung cabut ibunya Aldi masuk rumah sakit.” Jelas ine.
“Ibu sakit apa Di?”
“Maag nya kambuh, Vil. Tapi sekarang udah pulang kok.”
“Salam ya sama ibu.”
“Gimana sama Fino?” Tanya Aldi sambil mengalungkan tangannya ke bahu Ine. Villa hanya angkat bahu.
“Harus tetap berusaha dan bersabar ya Vil.” Kata Ine. Ya, Ine dan Aldi memang sudah tahu yang terjadi antara Villa dan Fino. Villa yang selalu curhat sama  mereka dan kebetulan juga Fino ini sahabatnya Aldi sejak kecil.
“Iya dong, Cinta sejati tak kenal kata menyerah dan Fino itu Cinta sejati gue dan nggak ada kata nyerah dan lelah untuk dia.” Aldi hanya tersenyum tipis dan langsung menoyor kepala Villa.
“cih, sok kali. Tapi, salut deh gue sama lo.”
“Salut sih salut aja, jangan noyor gue. Bilang tuh sama sahabat lo kalo gue bakal selalu nunggu.”
“Bilang aja sendiri.”
“Aldiiiii.” Geram Villa. Kemudian diliriknya Ine yang Cuma ketawa dan melototkan matanya. “Putusin Aldi.”
“Woeee, siape loo? Perasaan punya masing-masing, siape lo nyuruh-nyuruh putus?” Teriak Aldi tak terima sedangkan Ine hanya bisa ketawa.
“Heh, lo lupain jasa gue sama hubungan kalian?” sewot Villa.
“Haha, jasa lo nggak bakal gue lupain kok Vil. Tenang aja lagi dan kita akan selalu ada buat lo kok.”
“Iya, Kita akan selalu ada buat lo kok sayang. Semangat untuk dapatkan cinta lo.” Tambah Ine lalu merangkul Villa.
Anytime buat lo.” Villa hanya tersenyum dan mengangguk. Tetapi, sesat kemudian ia kembali memasang wajah juteknya karena masih kesal dengan Adi dan Ine tadi.
“Nggak butuh, wek.” Ia lalu bangkit dan meninggalkan Aldi dan Ine yang hanya bisa membulatkan mulutnya. Kemudian mereka saling tatap dan tertawa. Villa, Villa.
***
Fino terbangun dan melirik jam di tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB sudah terang sekali hari ini. Sehabis shalat Subuh tadi Fino kembali terlelap karena semalam nggak bisa tidur. Ia masih memikirkan perkataan papanya. Tetapi Fino tidak bisa, Fino masih mencintai Melatinya dan Fino yakin Melatinya kembali.
Fino melirik cincin yang melingkar di jari manisnya. ‘Lalu, kalau Melati kembali bagaimana dengan cincin ini?’ Fino terdiam. ‘Kalau Melati kembali, aku akan melepas cincin ini. Lalu bagaimana dengan Villa? Villa itu Mawar merah yang selalu merona ceria.’
Fino merasakan kepalanya berdenyut. Astaga, hanya memikirkan ini kepalanya menjadi sakit. Ini terlalu rumit. Dia harus mendinginkan kembali kepalanya.

Selesai mandi Fino memakai baju kaos putih yang dibaluti jaket hitam dengan celana jins. Mengambil sepatu putih di rak sepatu dan memakainya. Kemudian di raihnya tas Polo yang diletakkannya dalam lemari. Ia lalu turun ke bawah, mengambil sepotong roti di meja makan dan langsung berlari ke mobil. Jam 10.30 WIB ia ada kelas.
“Alfino Rahel.” Suara Sang Mama menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menghampiri Mama yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
“Kalu mau pergi pamit dulu.”
“Maaf Ma, Fino kira nggak ada orang di rumah. Habis sepi sih. Fino mau ke kampus dulu ya. Assalamu’alaikum Ma.” Fino mencium tangan mama lalu menicium kedua pipinya.
“Hati-hati sayang.”
“Mama juga hati-hati ya di rumah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Fino.”
***
Fino memasuki rumah sambil bersiul, hari ini mata kuliah hanya satu dan begitu mata kuliah itu selesai ia langsung pulang. Jadi ia bisa makan siang di rumah dengan masakan Mama. Ia memperhatikan sekeliling rumah, tidak ada tanda-tanda berpenghuni.
“Assalamu’alaikum.” Serunya. Tidak ada jawaban.
“Assalamu’alaikum.” Ulangnya lagi. Kini terdengar suara dari dapur. Fino menoleh dan mendapati Villa yang sedang berjalan ke depan dengan celemek yang melekat di tubuhnya.
“Wa’alaikumsalam. Kak Al sudah pulang?” sambut Villa dengan senyumnya yang merekah. Fino hanya menggumam. Villa membuka celemeknya dan memutar tubuhnya kembali menuju dapur. Kecewa dengan jawaban Fino.
“Kakak sudah shalat? Kalau belum shalat dulu sana habis itu makan siang biar Villa siapin.” Kata Villa tanpa menoleh kearah Vino yang masih berdiri dekat tangga. Fino menghela napas lalu menyusul langkah Villa dan duduk di salah satu kursi meja makan.
“Mama kemana?”
“Mama lagi ke rumah sakit diantar sama Papa.” Jawab Villa. Kemudian menyendokkan nasi ke piring Fino dan meletakkannya di depan Fino.
“Mama kenapa?”
“Tadi Mama sempat batuk darah, makanya Papa langsung bawa ke rumah sakit. Mau lauk apa?”
“Ayam kecap.” Villa dengan telaten memindahkan sepotong ayam kecap ke piring Fino. Menuangkan air putih ke gelas Fino kemudian duduk di hadapan Fino.
“Kamu nggak makan?” Villa menggeleng.
“Aku nungguin Kak Al aja.”
“Kamu nggak perlu nungguin aku.” Nada penolakan itu membuat Villa kembali merasakan nyilu di ulu hatinya.
“Aku nggak keberatan menunggu siapapun dan berapa lama pun selama aku cinta sama dia.” Jawab Villa. Fino terdiam beberapa saat dan kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. ‘begitu juga aku menunggu Melatiku kembali.’

Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor Villa memutuskan untuk pulang. Di ketuknya pintu kamar yang ia yakini milik Fino. Pintu terbuka dan menampilkan Fino yang menggunakan celana pendek dan kaos putihnya dengan rambut yang agak berantakan.
“Kak, Aku pulang dulu ya.” Fino hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Villa mengangguk pasrah dan memutar tubuhnya menuruni tangga. Untuk bilang hati-hati di jalan saja dia tidak apalagi mau mengantarkan Villa pulang. Itu hanya di mimpi. Akhirnya Villa pulang dengan menggunakan Taksi yang iadapati setelah jalan beberapa meter keluar dari kompleks perumahan Fino. Aku Villa, akan selalu tegar membakar hatimu yang dingin agar menjadi cair.
***

 Bersambung ...
Category: 0 comments

Cinta (3) Cerbung Rify

3
Ify duduk sendiri di salah satu meja makan. Di atas meja itu sudah tersusun rapi beberapa buku Kimia. Sedangkan si empunya –Ify- lebih memilih membaca novel yang sudah lama ia beli, tetapi baru sekarang ia sempat melanjutkan membacanya. Sesekali ia memperbaiki letak kaca mata minus yang bertengger di atas hidungnya.
Malam ini Rio memintanya untuk diajarkan Kimia, mengulang materi yang diajarkan tadi pagi. Tentu saja Ify dengan senang hati mengiyakan. Apalagi dengan bonus plus-plusnya. Kalau ditolak, itu berarti ia menolak rezeki. Ya, walaupun ia yang meminta dan ia pun sangat-sangat yakin keikhlasan Rio mentraktirnya  dibawah standar.
Ify memutar kepalanya ke belakang mencari keberadaan Rio. Yang terlihat malah couple-couple yang menggunakan buku sebagai orang ketiganya. Berduaan dengan alasan belajar. Ify melengos, Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tetapi Rio belum muncul juga. Padahal janjinya tadi siap sholat Isya’. Nggak tahu apa menunggu itu bagai menu makan setiap hari yang nggak ganti-ganti. Tahukan rasanya kalau setiap hari menunya itu saja. BOSAN.
“Kemana sih anak itu? Udah hampir tamat nih novel gue.” Dengus Ify. Dilemparnya asal novel itu di atas meja. Ia kembali melirik ke asrama cowok. Tetap saja tidak ada yang keluar dari kandang itu. Dilihatnya Reza yang baru saja mengantarkan Ayu –pacarnya- di depan asrama cewek.
“Hai, Nek. Lagi ngapain sendiri disini?” Sapa Reza dengan cengiran khasnya. Ify memutar bola matanya. Reza ini memang kebiasaan manggil dia dengan sebutan Nenek.
“nggak manggil gue nenek berapa sih, Jak?” kesal Ify. Rejak panggilan anak asrama pada Reza. Awalnya ini Cuma panggilan Daud yang susah bilang zet. Tetapi seiring berjalan waktu, teman-teman yang lain ikutan memanggil reza dengan Rejak. Panggilan kesayangan katanya.
“Nggak bayar sih, Nek. Tapi lo itu emang cocok dipanggil Nenek, cerewet sih lo kayak Nenek gue.” Setelah mengatakan itu Reza langsung ngakak melihat wajah Ify yang sudah memerah.
“Dan sekarang lo sah jadi Nenek gue Fy dan gue cucu Lo. Haha.”
“Lucu. Pergi sana lo sekalian panggilin Rio.”
“Okkkeh Nenekku. Babaay.” Reza langsung berlari begitu melihat Ify sudah ambil ancang-ancang untuk melakukan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya. Ify menghela napas, ia sebenarnya tidak marah dengan panggilan-panggilan aneh buat dia di asrama ini. Toh, sudah banya yang manggil dia aneh-aneh. Ada Bulek, Behel, Tirus, Runcing dan lain-lainnya. Tetapi berhubung ia sudah bete’ dari sananya gara-gara menunggu Rio. Jadilah Reza cucu sialannya, cucu dapat gede yang kena imbas.
Tidak lama kemudian Rio datang dengan membawa beberapa snack ditangannya. Ia sendiri masih menggunakan sarung dan baju bercorak batik lengan pendek. Sepertinya tidak sempat mengganti baju selesai Sholat Isya’ tadi. Pecinya sudah dilepas dan menampakkan rambutnya yang agak basah dan lumayan berantakan.
Sambil berlari kecil ia menghampiri Ify. Lalu berkata dengan cengiran khasnya “Fy, sorry gue---”
“Lo pikir nunggu nggak capek?” Sewot Ify. Ia melipat tangannya di depan dada dan matanya memancarkan kekesalan. Mulutnya juga sudah maju beberapa centi ke depan.
Rio meringis dan menggaruk tengkuknya yang nggak gatal itu “Tadi gue kena hukuman, Fy. Magrib tadi gue Masbuq dan lo tahukan hukumannya apa? Nah, ini gue baru selesai ngaji satu Juz.”
“Gue belum nanya.”
“Ya udah itu berarti gue sedia payung sebelum hujan.”
“Lucu.” Ify melepaskan kaca matanya lalu ia letakkan di kotak segiempat khusus untuk kaca mata berbingkai biru itu. Rio langsung panic dan dilemparnya snack yang ia bawa tadi ke atas meja.
“kenapa kacamatanya dilepas?” Tanya Rio pelan. Ify hanya diam dan sekarang mulai memasukkan buku Kimia diatas meja tadi kedalam tasnya.
“Fy, Ify. Yayaya, kok disimpan bukunya? Kitakan belum belajar.” Tetap tidak ada respon dari Ify dan membuat Rio semakin frustasi. Gawat kalau Ify ngambek. Kalau Ify ngambek nyusahin semua pihak, terutama dirinya. Berbagai permintaan aneh akan keluar dari mulut manis ify dan ujung-ujungnya ia yang paling menderita menuruti permintaan itu.
Ify dengan santai dan tak acuh mulai melangkah meninggalkan Rio yang masih saja memohon kepadanya untuk belajar. Ia mencoba menulikan telinganya untuk kali ini. Sebenarnya ia kasihan dengan Rio, tetapi demi menghindari bahaya di depan mata ia harus menulikan telinga dulu.
“Fy, Ify.” Yah, Ify tak mengacuhkannya. Rio mengusap wajahnya lalu duduk di kursi yang baru saja Ify tinggalkan. Dibukanya sebungkus Chitato yang selalu tersedia di kulkas kamarnya. Dicomotnya dngan kasar lalu dimasukkan kemulutnya. Belum ditelan, sudah dimasukkan kembali. Begitu seterusnya sampai mulutnya penuh.
‘gue Cuma mau pintar Kimia. Lo yang pintar kimia  kok ngesok ya? Untung gue sayang sama lo.’ Dumel Rio dalam hati. Mulutnya terus mengunyah dengan susah payah karena kepenuhan. Matanya memancarkan kekesalan sekaligus rasa bersalah sih.
***
Ify berjalan pelan menuju asrama. Ketika tiba di depan pintu ruang makan Ify langsung tersenyum kearah Abi Sandy –Pembina asrama Putra sekaligus guru bahasa Arab disana. Ify langsung mencium tangan Abi. ‘ini dia bahayanya, sorry kak Rio gue gak maksud kok tadi.’
“Assalamu’alaikum Abi.” Abi tersenyum.
“Wa’alaikumussalam, Pefyta. Habis belajar?”
Ify mengangguk sopan. Abi pun ikut mengangguk “Masih banyak yang belajar disana?”
“hmm, Lumayan Bi. He. Ya udah Ify ke kamar dulu ya, Bi.” Ify langsung berlari meninggalkan Abi Sandy yang sekarang geleng-geleng kepala melihat tingkah Ify. Pasti ada sesuatu di dalam sana, apalagi kalau bukan pacaran. Padahal sudah jelas di asrama ada aturan nggak boleh pacaran dengan poin 20. Total poin keseluruhan sih 60, jadi ketahuan tiga kali pacaran ya siap-siap di DO. Dasar Remaja.
Ify menghela napas legah begitu berhasil meninggalkan Abi Sandy. Diurutnya berulangkali dadanya dalam hati ia berucap ‘Selamat, selamat.’ Kalau berhadapan dengan Abi susah sekali kalau berkata bohong. Pandangan dan senyumnya itu loh yang membuat gugup seketika.
***
Rio yang masih saja memenuhkan mulutnya dengan Chitato tadi langsung membelalakkan matanya begitu ia tak sengaja menangkap Ify sedang mengobrol dengan Abi. Dengan susah payah ditelannya Chitato dimulutnya. Sambil menepuk-nepuk dada sampai terbatuk.
UHUK
UHUK
Di minumnya air dibotol tuperware biru yang terdapat di atas meja sebelah. Lalu diteguknya sampai habis. Bodoh deh ini punya siapa, yang pasti ini masih punya anak Plus. Dengan segera demi nasib teman-teman yang kasmaran itu ia langsung teriak sambil berlari-lari seperti orang gila.
“Woy, woy. Duduknya gabung aja, jangan berduaan gitu woy. Abi udah depan pintu sebelah asrama putri tuh. Mau lo dipanggil ke ruang BK.” Yang tadi duduk berduaan langsung menghambur, membentuk kelompok dalam satu meja. Rio sendiri mengelap keringat yang sudah bercucuran di dahinya dan menghela napas legah. Hufft, untung ruang makan ini dindingnya kaca semua. Ia kemudian kembali ke meja awal untuk mengambil snack yang ditinggalnya tadi.
Dari kejauhan nampak Abi Sandy berjalan kearah mereka. Yang cowok-cowok sudah nyengir membuat Abi yang melihat itu mencibir. Sudah hapal sekali dengan tingkah anak didiknya ini, terutama yang laki-laki.
“Nggak usah kalian jual gigi kalian sama Abi. Nggak bakal Abi beli.” Jawaban Abi itu membuat anak didiknya itu ngakak berjamaah. Rio yang baru saja kembali dari mengambil Snacknya yang tertinggal menghampiri Abi dan menyalami tangan Abi.
Abi menepuk pundak Rio pelan “Capek teriak tadi, nak?”
Rio meringis dan menggaruk kepalanya yang mendadak jadi gatal “Teriak apa, Bi? Rio nggak ada teriak tuh.”
“Eh, Io. Bagi kek tu yang lo bawa atu.” Celetuk Rezky berusaha mengalihkan topic. Tetapi, tidak mudah ternyata saudara-saudara. Begitu Rio hendak menjawab celetukan Rezky Abi sudah lebih dulu bertindak.
“Ekhem, untuk malam-malam awal ini Abi maklumi dikitlah. Tetapi untuk malam selanjutnya, poin kita berlaku ya Boys, Girls.”  Semua mengangguk lemah.
“yang semangat dong.”
“Yess, Abiii.” Abi  tersenyum lebar. Dasar remaja, main pacar-pacaran semangat. Tiba dikelas kebanyakan loyo semua. Ckck.
“Nggak ikhlas banget.” Dayat dan yang lain-lainnya mendelik. Kalau Rio mah anteng-anteng aja. ‘Gue nggak punya pacar ini.’ HHhh.
“Io, bagi tuh atu.” Rezky kembali beraksi begitu melihat Rio yang hendak meninggalkan mereka. Rio hanya melongos dan tetap melanjutkan langkahnya.
“Ogah banget gue.”

PLUK
Tiba-tiba mendarat sebungkus Lays dan kawan-kawannya yang di kepala Rezky, Dayat dan kawan-kawan. Rezky dengan cengonya melihat kearah datangnya Lays dkk tersebut. Disana terlihat Rio yang masih santai melanjutkan jalannya dengan tangan yang kini melenggang santai.
“Dasar si Rio, diluarnya aja bilang nggak.”
“Sudah-sudah, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Udah hampir jam 10 ini.” Suruh Abi dengan lembut tapi tegas. Yang cewek langsung bubar dan menyalami Abi. Abi menatap anak-anak cowok yang masih staycool sambil makan snack yang dilempar Rio tadi.
“Mau Bi?” celetuk Dayat.
“Nggak, istri saya itu orang kesehatan dan saya tahu makan yang kayak begituan nggak sehat.”
“Whooa, sombooong.” Sorak semuanya.
“Masuk kamar sana, tidur. Sebelum tidur wudhu dulu jangan lupa baca doa, biar besok kebangun subuh, nggak masbuq dan nggak dihukum Ustadz Khafif.”
“Yah, Abi. Habisin ini dulu deh. Mubazir kalo nggak dihabisin.”
“Ya sudah, Habis ini langsung masuk kamar masing-masing.” Abi pun berbalik hendak meninggalkan anak didiknya itu. Tetapi Abi Sandy kembali berbalik dan berkata “Pan, makan pake tangan kanan. Yang makan pake tangan kiri itu setan.” Abi pun kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Halpan yang tadi memang makan dengan kiri. Halpan sendiri masih cengoh sedangkan teman-teman yang lain langsung ngakak.
“Assalamu’alaikum, Bi.” Teriak Halpan. Abi tetap saja berjalan dengan senyum yang terukir di wajahnya. Tetapi dalam hati ia tetap menjawab salam Halpan.
“Jawaab Bii, Dosa tahu.” Tambah Dayat, tetapi tetap tidak diacuhkan. Akhirnya merekapun beangsur-angsur meninggalkan ruang makan. Besok harus siap bangun Subuh kalo tidak mau dihukum oleh Ustadz dan Abi karena masbuq.
***
Ify terbangun pukul 04.30 WIB ketika terdengar suara orang –lebih tepatnya kaset ngaji dari Masjid tetangga. Dengan jalan yang masih goyang karena  masih ngantuk Ify menghidupkan lampu kamar yang memang sengaja ia matikan sebelum tidur. Diliriknya Sivia yang masih tertidur lelap di kasurnya.
Ify kembali duduk di atas kasurnya sambil menguap. Kemudian ia melirik HPnya yang masih tergeletak di samping bantal. Diambilnya HP itu lalu mulai mengetik sebuah pesan. Setelah terkirim, Ify melempar sembarang Hp tersebut dan ia kembali merebahkan badannya dengan kaki yang masih terjulur ke bawah. Dan ia kembali terlelap.
***
Rio terbangun dari tidurnya ketika terdengar suara adzan. Dari lagu dan jenis suaranya sepertinya dia tahu ini suara adzan siapa. Ketika lampu kamar ia hidupkan di kepalanya langsung muncul wajah Ustad Khafif. Ya ampun, ini Ustadz yang adzan. Kemudian dengan segera dilemparnya Gabriel yang masih tidur dengan bantal yang ia bawa berjalan tadi. Gabriel tampak tidak terganggu sama sekali dengan suara adzan itu.
“Woooi, Kambiiing. Ustadz adzan noh, dijadwalkan lo yang Imam.” Setelah membangunkan Gabriel, Rio langsung bergegas memakai sarungnya dan baju koko yang digantungnya di belakang pintu. Lalu di sambarnya peci yang terletak di atas lemari.
Gabriel langsung bangkit begitu mendengar teriakan Rio. Kalau nama Ustadz sudah disebut berarti tidak ada lagi waktu untuk malas-malasan. Gabriel mengambil Almamaternya lalu memakai sarung dan peci. Ia langsung berlari ke Masjid.
***
Gabriel melangkah santai menuju ruang makan sambil memasang dasi hitam di lehernya. Sesekali ia tersenyum dan mengangguk menjawab sapaan juniornya. Ruang makan masih sepi, tapi emang biasanya sepi sih jam segini. Biasanya ruang makan ramai kalau udah jam 06.45 limabelas menit sebelum bel berbunyi. Nah, ini baru jam 06.30. hanya murid-murid yang dikategorikan rajin yang sarapan jam segini.
Gabriel rajin? Oh tentu saja tidak. Biasanya dia yang paling parah malah, sarapan ketika bel masuk berbunyi dan ia tidak ikut apel pagi. Ketika bel berbunyi ia langsung membawa nampan makanan itu ke kamar dan sarapan disana. Kenapa dengan hari ini? Ia hari ini cepat karena sehabis Sholat Subuh tadi ia mendapat hukuman dari Abi Sandy karena tidak menjalankan tugas sebagai Imam. Ya, Subuh tadi Gabriel terlamabat dan posisinya sebagai Imam digantikan oleh Dwi Adi ketua Rohis.
Mau tahu hukuman Gabriel? Ya seperti biasa kalau berurusan dengan Abi hukumannya ya Rukiyah alias siraman dengan air Es yang kalian tahukan rasanya mandi air es subuh-subuh. Beda sekali dengan Ustadz. Kalau dengan Ustadz hukumannya ya ngaji paling sedikit ya Satu Juz.
“Kak Iel?” Shilla yang baru keluar dari dalam ruangan yang berada dalam ruang makan. Nah diruang itulah mereka biasanya mengambil jatah sarapan. Gabriel langsung tersenyum.
“Kok tumben ketemu aku pas sarapan?”
Gabriel langsung mencibir mendengar ucapan kekasihnya itu. “Yayaya, tahu deh gue yang selalu sarapan jam segini.” Shilla tergelak mendengar ucapan Gabriel.
“Ya udah, kakak ambil sarapannya gih. Kita sarapan bareng ya.” Gabriel hanya mengangguk dan Gabriel masih bisa mendengar gumaman Shilla “Langka sekali hari ini.”
***
“Pagi kak Rioo.” Rio mengernyit bingung. Ada angin apa emang pagi ini? Kok udah nyapa aja ini anak. Bukannya semalam jelas-jelas dia marah. Rio mengambil sarapannya dan berjalan keluar meninggalkan Ify yang melongoh di tempat. Pasti karena sms pagi tadi.
“Oy kak Rioo, kok lo nggak jawab?” Ify mengejar rio dan menyamakan langkahnya dengan Rio. “Kan semalam gue yang marah, kok lo pagi-pagi gini marah sama gue?”
“Siapa coba yang marah?”
“Nah, tadi lo diem aja pas gue sapa.”
“Gue sariawan, nih lihat.” Ify megerucutkan bibirnya membuat Rio yang melihat itu langsung mengacak rambut gadis itu gemas.
“Ih, apaan sih. Berantakan tau.”
“Ayo makan, bentar lagi bel tuh.” Ify langsung menurut dan langsung mengambil duduk di samping Rio.
“Lo baca sms gue subuh tadi gak?”
“Gue mana bawa yang begituan.” Jawab Rio kalem membuat Ify langsung melemparnya dengan serbet di atas meja. Sedangkan Rio hanya terkekeh.
“Sok banget lo, seasrama tau lagi lo dari awal nggak pernah absen bawa itu.”
Rio hanya tertawa. Kenyataannya memang begitu. Awal masuk kelas X saja dia sudah nekat membawa itu apalagi sekarang sudah kelas XII. Apa kata dunia kalau dia tidak membawa barang wajib itu. Tahukan barang wajib yang dimaksud itu? Anak asrama jangan sok nggak tahu.
“Gue baca kok pesan lo tadi, ya udah di kelas nanti lo duduk bareng gue aja.” Ify langsung mengangguk cepat.
“Aaaa, tengkyu kak say. Gue udah bisa nebak ntar kalo udah belajar itu.”
“Hmm. Emang lo nebak apa?”
“PKN, gak bisa lari dari minta pendapat dan percaya deh yang akan selalu ngasih pendapat itu Budi dan Ardi yang sok sok gimana itu. Akhirnya berdebat dan debatnya hanya keliling-keliling itu aja tanpa ada solusi. Mending gue ngerjain tugas Fisika dari pak Mar bareng elo kan?” Rio hanya memutar bola matanya mendengarkan ocehan Ify sambil terus menyuapkan sendok demi sendok nasi goring ke mulutnya.
“Makan tuh, jangan ngoceh mulu. Bentar lagi bel bu-“ dan benar saja sebelum Rio menyelesaikan ucapannya bel masuk terdengar nyaring.
“Nahkan, apa gue bilang.” Rio akhirnya bangkit dan meletakkan nampannya ke tempat yang telah di sediakan oleh orang dapur. Di ikuti oleh Ify yang masih menyisakan setengah nasi gorengnya.
“Kak Rioo tungguin guee.”
***
Seperti ocehan Ify pagi tadi ketika sarapan bersama Rio pelajaran PKN memang hanya berisi debat tidak penting. Ify sendiri sibuk mengerjakan tugas Fisika buat besok sedangkan Rio meletakkan kepalanya di atas meja menghadap ke buku Ify juga sesekali melirik yang punya buku yang tampak serius. Rio tersenyum kecil dan tak sadar bersenandung dengan lirih.
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
#Ipank, Sahabat Kecil
Ify menoleh dan memeletkan lidahnya kearah Rio membuat Rio tergelak dan menegakkan kembali badannya. Ia merangkul pundak Ify dan menarik buku tugas Ify untuk memeriksanya. Ify diam menunggu komentar Rio.
“Udah kok.” Ucap Rio sambil melempar kembali buku Ify ke atas meja.
“Yey, tau gini nggak mau gue duduk bareng lo kak.” Rio yang hendak meletakkan kembali kepalanya di atas meja dengan tujuan tidur kembali mengangkat kepalanya dan menoyor Ify.
“Bacot lo, sebelum lo ngerjain tadi lo minta jelasin dulu tadi ke gue.” Ify hanya menyengir dan langsung memukul Rio dengan buku Fisikanya.
“Thanks kak.” Bisik ify di telinga Rio dan ia kembali memperhatikan –tepatnya pura-pura memperhatikan Guru PKN yang sejak tadi diselingkuhinya dengan Fisika. Dalam hati Ify menggumam ‘Maafkan daku PKN, kamu membosankan sih. Hihhi.’
“Ingat Fy, nanti malam Kimia.”
“Sipsip, lo jangan telat lagi.”
“Gue telat kan ga-“
Teng Teng Teng
“Nah Bel, ayo langsung ke kantin kak.” Ify langsung bangkit dan menarik tangan Rio. Rio langsung menahan tangan Ify dan menariknya ke meja guru.
“Salam dulu kali Fy, gak sopan tau gak. Cukup gak merhatiin aja.”
“Ehe.”
Setelah menyalami Bu PKN mereka langsung berjalan ke kantin tanpa menghiraukan panggilan Sivia dan Gabriel yang minta tunggu. Sambil tetap berjalan Rio dan Ify kompak teriak “Perut kita nggak mau nunggu, Sorry yaa.”
Sivia dan Gabriel yang mendengar teriakan kompak dari sepasang anak manusia itu hanya membuka mulutnya dan Sivia langsung mencak dan menarik tangan Gabriel mengikuti dua anak itu.
“Awas aja tuh anak dua.” Gabriel yang tangannya ditarik paksa oleh Sivia yang selama perjalanan menuju kantin selalu mengoceh tak terima ditinggalkan Ify hanya pasrah. Gabriel tersenyum “Dasar cerewet.” Dan sekali sentakan dari Gabriel Sivia langsung terhenti dan sedikit tertarik ke belakang.
“Apaan siiih L-“
Gabriel menatap tajam Sivia membuat Sivia meneguk ludah dengan payah dan sedikit demi sedikit cengiran tak bersalah dari Sivia mulai tercetak. Gabriel memutar bola matanya jengah.
Tuk
Aww
Ditoyornya kepala Sivia membuat si empu meringis.
“Narik gue kira-kira dong gembul. Kalo tangan gue copot gimana?”
“Buktinya itu nggak copot, mpeng.”
“Kan gue bilang kalo.”
“Lebay lo ah.” Sivia langsung berbalik hendak meninggalkan Gabriel tapi tangannya kembali di tarik Gabriel. Sivia sudah siap untuk menceramahi Gabriel tetapi tangannya keburu ditarik dan sekarang posisinya terbalik. Kalau tadi Sivia yang menarik tangan Gabriel menuju Kantin. Sekarang Gabriel yang menarik Sivia dengan lembut menuju kantin. Tepatnya Gabriel menautkan jarinya di jari Sivia. Sivia hanya menunduk pasrah.

Shilla yang sedang menuruni tangga asrama langsung menghentikan langkahnya melihat Adegan yang terjadi tepat di bawahnya. Shilla tersenyum lirih.
“Cara lo menggandeng dia dengan lembut sudah bisa dilihat dan dirasakan kalo lo emang cinta dia kak. Bahkan sekalipun orang buta bisa tahu itu.”
Shilla kembali menuruni tangga satu demi satu dengan senyum yang sebisa mungkin ia ciptakan. Senyum paksa lebih tepatnya, senyum ceria yang biasa terpatri di bibir mungilnya hilang entah kemana setelah melihat genggaman yang saling menghangatkan itu.
***
Sivia dan Gabriel sampai di meja yang diduduki oleh Rio dan Ify. Di atas meja telah berserakan berbagai macam makanan Ringan. Ada Yupi punya Ify dan Chitato rasa sapi panggang punya Rio dan makanan ringan lainnya. Sivia langsung berkacak pinggang sedangkan Gabriel langsung mengambil duduk di samping Rio lalu membuka salah satu makan di atas meja.
“Heh, Roommate sialan. Gue minta tunggu juga tadi malah langsung lari aja lo ke kantin.” Ify hanya tersenyum yang dibuat semanis-manis mungkin yang jatuhnya lebih ke menjijikkan. Sivia langsung duduk dan menyempatkan menyenggol kepala Ify dengan tangannya alias menoyor.
“AWW.”
“Kali ini baik deh gue, gak gue bales.” Kata Ify sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah Sivia tadi.
“Emang gue bakal diam aja kalo lo bales?” kata Sivia lalu mengambil sebungkus kacang di atas meja dan membukanya.
“Jerawatan tau rasa lo, mbul.” Celetuk Gabriel. Sivia mendelik.
“Perhatian ya lo sama gue. Sampe jerawat aja lo ingetin.” Rio dan Ify langsung ngakak melihat ekspresi Gabriel yang seakan-akan mau muntah mendengar jawaban Sivia.
“Naksir ya lo El sama teman ndut imut gue ini?” Tanya Ify sambil menaik-turunkan alis matanya. Sivia mengangguk setuju sambil tersenyum menggoda ke Gabriel.
“Jangan deh El, gue kan mau jadi kakak sepupu iparnya Ipy nih. Nanti loh patah hati lagi.” Rio dan Ify langsung ngakak kembali melihat tampang masam Gabriel yang digoda Sivia.
Gabriel hanya terdiam sebentar, namun mendengar celetukan Sivia tadi membuatnya harus memutar bola matanya dengan kesal. “Najong tralala, trilili tau gak. Kalo boleh nih ya, gue mau muntah ngeluarin semua omongan lo yang masuk lewat telinga gue dan menjalar ke seluruh tubuh bagai virus yang amat sangat membahayakan. Gila aja apa gue naksir lo, mbul. Gue udah punya Shilla kali.”
“Hati-hati deh El, siapa tahu omongan Sivia yang masuk dalam tubuh lo yang bagaikan Virus itu nyambar hati lo dan meracuni nama Shilla yang ada disana terus diganti dengan nama dia. Haha.” Kini Rio yang bersuara menggoda Gabriel. Semuanya juga ikut tertawa mendengar celetukan Rio tadi. Sivia langsung melempar Rio dengan kulit kacang.
“Sialan lo.”
***
Gabriel sedang tengkurap di atas kasur sambil memandang laptop di depannya. Sore ini tidak ada kegiatan yang harus diikutinya. Jadi selesai Ashar ia langsung ke kamar dan mengeluarkan laptopnya. Rio tidak tahu nyampang dimana. Kemungkinan besar lagi sama Ify. Sekarang di layar laptop terbuka halaman facebook. Sepertinya cukup banyak teman-temannya yang lagi on di facebook. Terlihat dari status mereka mulai dari yang galau sampai yang gila dan alay ada disana.

Rizky Pratama
Inikah namanya cinta sendirian yang ku rasakan?
Tiada keberanian menyatakan, aku cinta
Gabriel tersenyum membaca status Rizky dan melihat beberapa komentar disana.
Daud manis:
Hatimu yang malang, teruslah bertahan jangan kau hilang
Buktikan cintamu teramat dangkal. Haha
Galau ya looo, mau gue bilangin sama **** gak :p
Dayat Arsalta
Syahriniiiii, ada yang cinta sendirian niiih. Ajarin usir cantik dooong :v
Rulyana Andini
Ternyata kaum cinta sendirian bertebaran dimana-manaa, haha
Sabar Ky, beginilah hidup :p
Rizky Pratama
BACOT LU PADA, -__-

Gabriel ngakak melihat komentar-komentarnya lalu ia kembali beralih ke status Dayat yang berhasil membuatnya ingin muntah sekaligus geli ingin ketawa.
Dayat Arsalta
Babang kangen sama Dedek, dedek kangen gak ya sama babang?
Kalau dedek tidak kangen, babang mau minum baygon aja deh.
Tapi babang gak suka pait dek :v
Zahra Putri
Mati, Mati lah babang. Dedek sujud syukur :p :v
Daud Manis
Bunuh saja Dedek Babaaaang *mati*
Sivia Azmanda
Gue suka gaya looo Raraaa,
Matiin aja babang lo itu :v

Gabriel Eka Vandra
Dedek tak sanggup liat babang matiii minum baygon,
Dedek lebih suka liat penderitaan babang yang paiiit itu :v

Gabriel ngakak setelah memberi komentar di status facebook Dayat. Dayat emang gila dari dulu. Kemudian matanya teralih pada pesan yang baru saja dikirimkan oleh Shilla kekasihnya.
Ashilla Roselia
Kak :D
Gabriel tersenyum dan langsung membalasnya
Iya? Kangen ya? :p
Ashilla: Iya kangen :D
Gabriel: kangen kamu jugaak :*
Ashilla: ih, genit :o
                Kakak mandi gih, magrib nanti kakak muadzin kan? Ntar kena hukum lagi loh
                Kalo gak menjalankan tugasnya. J
Gabreil: oke cantik.

Gabriel tersenyum lirih melihat Chat Shilla kepadanya. Sampai sekarang dia tidak ada perasaan apa-apa pada gadis cantik itu. Gadis yang selalu memberinya perhatian yang selalu ditanggapinya dengan senyuman. Dia merasa bersalah, kenapa dulu dia bisa meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya, padahal dia tahu tak ada sedikit pun perasaan yang ia selipkan untuk Shilla di hatinya.
Hati? Kembali diingatnya ucapan Rio di kantin ketika jam istirahat tadi.
“Hati-hati deh El, siapa tahu omongan Sivia yang masuk dalam tubuh lo yang bagaikan Virus itu nyambar hati lo dan meracuni nama Shilla yang ada disana terus diganti dengan nama dia. Haha.”
Gabriel menggeleng, mana mungkin nama Shilla teracuni. Satu huruf saja dari nama itu tidak pernah terselip dihatinya. Di hati Gabriel nama Shilla memang tidak teracuni, tetapi hati Shilla yang akan mengangah lebar dan mengeluarkan darah kepedihan jika tahu bahwa namanya tidak ada di hati orang terkasihnya.
Omongan Sivia yang masuk dalam tubuhnya hanya akan memupuk nama itu sendiri hingga subur dan akan sangat sulit mati. Gabriel yang selalu merawatnya dari hanya sekecil benih sampai tumbuh menjadi ukiran yang akan sangat sulit di hapus.
Gabriel mendesah “Maafkan gue Shilla, Sivia.”
***

Bersambung ....




Category: 0 comments

Perjuangan Cinta Mawar Prolog & Part 1

Perjuangan Cinta Mawar
Prolog

Yang ku maksud bahagia itu
Ketika aku mencintaimu,
Kamu pun mencintaiku sepenuh hati

Rasa yang tidak pernah hilang, datang dan pergi sesuka hati. Sungguh, aku hanya bisa menerimanya dengan keindahan yang terukir di hati, dengan meraih puing-puing rindu dan jiwa yang tidak tersentuh. Aku menunggu, sampai kau yakin tidak ada wanita yang lebih baik dariku. Hingga akhirnya kau meraihku. Melatimu telah mati dan aku Mawarmu yang akan tetap mekar.
-Arvilla Diana

Menyerahlah, rasa itu tidak tepat kau tujukan padaku. Simpan dan jaga untuk pria yang akan meraihmu. Yakinlah, itu bukan aku. Aku masih menunggu Melatiku kembali dan aku tidak mau Mawar merah nan merona terabaikan. Menunggu itu sakit sayang dan aku tidak mau kau merasakannya terlalu lama.
-Alfino Rahel

1
-Kisah tentang sekuntum Mawar yang indah dan mempesona dalam pandangan. Harum semerbak menanti cinta-
Hari ini pembicaraan dua keluarga tentang ikatan perjodohan terasa hangat dan penuh suka cita. Dayat dan Riko tersenyum lega. Akhirnya perjanjian konyol yang mereka tulis di pohon mangga samping kantin kampus terwujud. Kebetulan sekali Riko mempunyai anak lelaki –Alfino Rahel yang sekarang sedang kuliah semester V di salah satu universitas swasta di Yogya begitu juga dengan Dayat yang mempunyai seorang anak perempuan –Arvilla Diana yang sekarang masih kuliah semester III di Universitas Negeri Yogyakarta.
Villa yang saat itu duduk di antara Ayah dan Bundanya melirik kearah Fino yang berada di hadapannya. Wajah itu datar, tetapi wajah itu juga membuat hati bergetar. Dengan memakai celana jins hitam dan kemeja putih lengan panjang dengan garis-garis hitam membuatnya semakin tampan. Alis tebal, hidung bangir dan mata yang sayu. Rambut hitam pendeknya tertata rapi. Sungguh, tampan. Tetapi, bisakah wajah datar itu membentuk lengkungan indah di bibir. Villa menggeleng sepertinya tidak.
Sejak pertama bertemu Villa sudah merasakan getaran yang menjatuhkan. Iya, Villa jatuh. Villa menjatuhkan hatinya kepada Fino. Namun, tidak tersambut lebih tepatnya belum atau tidak sama sekali. Dari pertama bertemu Fino tampak enggan menatapnya, kalaupun menatap pasti dengan wajah datarnya.
“Villa.”
“Ya?” Villa menjawab dengan terkejut kemudian menatap Ayah dan Bunda bertanya.
“Temani Fino ngobrol sana. Tadi dia ke belakang.” Villa mengangguk dan tersenyum ke orang tua Fino lalu pamit ke belakang.
***
Villa melihat Fino yang sedang duduk di gazebo belakang sambil menatap langit. Pandangannya kosong membuat Villa dipenuhi tanda Tanya. Ada apa dengan Fino? Perlahan Villa berjalan mendekati Fino dan mengambil duduk tepat di samping kirinya. Fino tetap menatap langit, tanpa mengacuhkan keberadaan Villa.
“Kak Al.” Fino menoleh sesaat lalu memalingkan mukanya ke kanan. Villa tersenyum miris.
“Kenapa nggak mau natap aku?”
“Kak Al nggak suka sama aku?”
“Kak Al nggak suka perjodohan ini?”
“Kak Al bisa ngomong sama orang tua kita untuk membatalkannya kak.”
“Kak Al, jawab.” Suara Villa terdengar bergetar sekaligus putus asa karena tidak satu pun pertanyaannya dijawab Fino. Fino menoleh dan menatap wajah sendu calon tunangannya. Fino tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.
“Maaf.” Villa mengangkat wajahnya menatap Fino. Wajahnya tetap datar membuat Vila tersenyum miris kemudian bergumam lirih.
“Aku cinta sama kak Alfino.” Setelah itu Villa meninggalkan Fino yang kini mematung mendengar pengakuan Villa. Hatinya mencelos.
 “Jangan beri aku rasa itu, Villa.” Gumamnya.
***

 Bersambung ...



Category: 0 comments